SPACE AVAILABLE!!!       Telp: "0822-3131-4900"

Kajian Tentang 7 Keutamaan Surah Al-Fatihah

Ulama-ulama besar yang menjadi panuan ummat berbeda pendapat, apakah ada kelebihan atau keistimewaan dari suatu surah/ayat atas yang lainnya di dalam kitab suci Al-quran. Bolehkah suatu surah atau ayat dianggap lebih besar, lebih dan lebih penting dari surah lainnya?

Abul Hasan Al-Asy'ari, Imam tentang ilmu kalam bagi ahli sunnah wal jamaah, dan banyak ulama-ulama besar lainnya, melarang sekeras-kerasnya kita melebihkan, mengistimewakan dan meninggikan suatu surah atau ayat atas surah/ayat yang lainnya. Sebab bila dikatakan ada surah atau ayat yang lebih , tentu ada yang kurang. Tidak mugkin ada suatu surah/ayat di dalam Al-quran yang dianggap kurang penting.

Tetapi tidak dapat kita bantah, banyak sekali Hadist-hadist Nabi Muhammad yang menerangkan keistimewaan beberapa surah/ayat di dalam Al-quran.


7 keutamaan surah al fatihah


Hadist Tentang Keutamaan Surah Al-fatihah.

Di dalam kitab Muwatta’ Imam Malik terdapat sebuah hadis yang perlu diperhatikan. Hadis tersebut diriwayatkan oleh Imam Malik:


 عن العلاء بن عبد الرَّحْمَنِ بْنِ يَعْقُوبَ الحُرَقي: أَنَّ أَبَا سَعِيدٍ مَوْلَى عَامِرِ بْنِ كَرِيزٍ أَخْبَرَهُمْ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَادَى أُبَيَّ بْنَ كَعْبٍ، وَهُوَ يُصَلِّي فِي الْمَسْجِدِ، فَلَمَّا فَرَغَ مِنْ صَلَاتِهِ لَحِقَهُ، قَالَ: فَوَضَعَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدَهُ عَلَى يَدِي، وَهُوَ يُرِيدُ أَنْ يَخْرُجَ مِنْ بَابِ الْمَسْجِدِ، ثُمَّ قَالَ: ” إِنِّي لَأَرْجُو أَلَّا تَخْرُجَ مِنْ بَابِ الْمَسْجِدِ حَتَّى تَعْلَمَ سُورَةً مَا أُنْزِلَ فِي التَّوْرَاةِ وَلَا فِي الْإِنْجِيلِ وَلَا فِي الْفُرْقَانِ مِثْلُهَا “. قَالَ أُبَيٌّ: فَجَعَلْتُ أُبْطِئُ فِي الْمَشْيِ رَجَاءَ ذَلِكَ، ثُمَّ قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا السُّورَةُ الَّتِي وَعَدْتَنِي؟ قَالَ: ” كَيْفَ تَقْرَأُ إِذَا افْتَتَحْتَ الصَّلَاةَ؟ قَالَ: فَقَرَأْتُ عَلَيْهِ: {الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ} حَتَّى أَتَيْتُ عَلَى آخِرِهَا، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” هِيَ هَذِهِ السُّورَةُ، وَهِيَ السَّبْعُ الْمَثَانِي وَالْقُرْآنُ الْعَظِيمُ الَّذِي أُعْطِيتُ “


dari Al-Ala ibnu Abdur Rahman ibnu Ya’qub Al-Harqi, bahwa Abu Sa’id maula Amir ibnu Kuraiz telah menceritakan kepada mereka bahwa Rasulullah pernah memanggil Ubay ibnu Ka’ab yang sedang salat.


Setelah Ubay menyelesaikan salatnya, lalu ia menjumpai Nabi Saw. Nabi Saw. memegang tangan Ubay, saat itu beliau hendak keluar menuju pintu masjid. Kemudian beliau Saw. bersabda, “Sesungguhnya aku benar-benar berharap sebelum kamu keluar dari masjid ini kamu sudah mengetahui suatu surat yang belum pernah diturunkan di dalam Taurat, Injil, dan tidak ada pula di dalam Al-Qur’an surat yang serupa dengannya.”


Ubay melanjutkan kisahnya, “Maka aku mengurangi kecepatan langkahku karena mengharapkan pelajaran tersebut, kemudian aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, surat apakah yang engkau janjikan kepadaku itu?’ Beliau Saw. bersabda. ‘Apakah yang engkau baca bila membuka salatmu?’ Aku membaca alhamdu lillahi rabbil ‘alamin sampai akhir surat,’ lalu beliau bersabda, ‘Itulah surat yang kumaksudkan. Surat ini adalah sab’ul masani dan Al-Qur’anul ‘azim yang diberikan kepadaku’.”


Abu Sa’id yang terdapat dalam sanad hadis ini bukanlah Abu Sa’id ibnul Mala seperti yang diduga oleh Ibnul Asir di dalam kitab Jami’ul Usul-nya dan orang-orang yang mengikuti pendapatnya.


Karena sesungguhnya Ibnul Mala adalah seorang sahabat dari kalangan Ansar, sedangkan Abu Sa’id maula ibnu Amir adalah seorang tabi’in, salah seorang maula Bani Khuza’ah (yaitu Abdullah Amir Ibnu Kuraiz Al-Khuza’i). Hadis yang pertama muttasil dan berpredikat sahih, sedangkan hadis kedua ini lahiriahnya munqati’ jika memang Abu Sa’id tidak mendengarnya dari Ubay ibnu Ka’b. Jika Abu Sa’id benar-benar mendengarnya dari Ubay, maka untuk kebersihannya disyaratkan disebutkan di dalam kitab Sahih Muslim.


Menurut Imam Ahmad, hadis ini diriwayatkan pula melalui Ubay ibnu Ka’b, bukan hanya dari satu jalur.


 حَدَّثَنَا عفَّان، حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، حَدَّثَنَا الْعَلَاءِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ، وَهُوَ يُصَلِّي، فَقَالَ: ” يَا أُبَيُّ “، فَالْتَفَتَ ثُمَّ لَمْ يُجِبْهُ، ثُمَّ قَالَ: أُبَيُّ، فَخَفِّفْ. ثُمَّ انصرف إلى رسول الل هـ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: السَّلَامُ عَلَيْكَ أيْ رَسُولَ اللَّهِ. فَقَالَ: ” وَعَلَيْكَ السَّلَامُ ” [قَالَ] ” مَا مَنَعَكَ أيْ أُبَيُّ إِذْ دَعَوْتُكَ أَنْ تُجِيبَنِي؟ “. قَالَ: أيْ رَسُولَ اللَّهِ، كُنْتُ فِي الصَّلَاةِ، قَالَ: ” أَوَلَسْتَ تَجِدُ فِيمَا أَوْحَى اللَّهُ إِلَيَّ {اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ} [الْأَنْفَالِ: 24] “. قَالَ: بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ، لَا أَعُودُ، قَالَ: ” أَتُحِبُّ أَنْ أُعَلِّمَكَ سُورَةً لَمْ تُنَزَّلْ لَا فِي التَّوْرَاةِ وَلَا فِي الْإِنْجِيلِ وَلَا فِي الزَّبُورِ وَلَا فِي الْفُرْقَانِ مِثْلُهَا؟ ” قُلْتُ: نَعَمْ، أَيْ رَسُولَ اللَّهِ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” إِنِّي لِأَرْجُو أَلَّا أَخْرُجَ مِنْ هَذَا الْبَابِ حَتَّى تَعْلَمَهَا ” قَالَ: فَأَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَدِي يُحَدِّثُنِي، وَأَنَا أَتَبَطَّأُ ، مَخَافَةَ أَنْ يَبْلُغَ قَبْلَ أَنْ يَقْضِيَ الْحَدِيثَ، فَلِمَا دَنَوْنَا مِنَ الْبَابِ قُلْتُ: أيْ رَسُولَ اللَّهِ، مَا السُّورَةُ الَّتِي وَعَدْتَنِي قَالَ: ” مَا تَقْرَأُ فِي الصَّلَاةِ؟ “. قَالَ: فَقَرَأْتُ عَلَيْهِ أُمَّ الْقُرْآنِ، قَالَ: ” وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ فِي التَّوْرَاةِ وَلَا فِي الْإِنْجِيلِ وَلَا فِي الزَّبُورِ، وَلَا فِي الْفُرْقَانِ مِثْلَهَا؛ إِنَّهَا السَّبْعُ المثاني “.


Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Affan, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Al-Ala ibnu Abdur Rahman, dari ayahnya, dari Abu Hurairah r.a. yang menceritakan bahwa Rasulullah Saw. keluar menemui Ubay ibnu Ka’b yang saat itu sedang salat. Beliau memanggil, “Hai Ubay!” Ubay menoleh, tetapi tidak menjawab, lalu ia mempercepat salatnya. Setelah itu ia segera menemui Rasulullah Saw., lalu bersalam kepadanya.”Assalamu’alaika, ya Rasulallah.”


Rasulullah Saw. menjawab, “Wa’alaikas salam, hai Ubay.Apakah yang mencegahmu untuk tidak menjawabku ketika aku memanggilmu?” Ubay menjawab.”Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku sedang dalam salatku.” Rasulullah Saw. bersabda, “Tidakkah engkau menjumpai dalam apa yang telah diwahyukan oleh Allah kepadaku, bahwa penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kalian kepada suatu yang mem-beri kehidupan kepada kalian? (Al-Anfal: 24).” Ubay menjawab.”Mereka benar, wahai Rasulullah, aku tidak akan mengulanginya lagi.”


Rasul Saw. bersabda, “Sukakah kamu bila aku mengajarkan kepadamu suatu surat yang tidak pernah diturunkan di dalam kitab Taurat. tidak dalam kitab Injil, tidak dalam kitab Zabur, tidak pula di dalam Al-Qur’an ada surat yang serupa dengannya?”


Ubay menjawab, “Ya, wahai Rasulullah.” Rasulullah Saw. bersabda, “Sesungguhnya aku benar-benar berharap, mudah-mudahan sebelum aku keluar dari pintu ini kamu sudah mengetahuinya.” Lalu Rasulullah Saw. memegang tangan Ubay seraya berbicara dengannya, dan Ubay memperlambat langkahnya karena khawatir beliau sampai di pintu masjid sebelum menyampaikan hadisnya. Ketika mereka mendekati pintu tersebut, Ubay bertanya, “Wahai Rasulullah, surat apakah yang engkau janjikan kepadaku itu?” Rasulullah Saw. bertanya.”Surat apakah yang kamu baca dalam salat?” Lalu Ubay membacakan kepadanya surat Ummul Qur’an, sesudah itu beliau Saw. bersabda, “Demi Tuhan yang jiwaku berada dalam genggaman kekuasaan-Nya, Allah tidak pernah menurunkan di dalam kitab Taurat, tidak dalam kitab Injil ser-ta tidak dalam kitab Zabur, tidak pula dalam Al-Qur’an suatu surat yang serupa dengan surat itu (Ummul Qur’an). Sesungguhnya surat itu adalah As-Sab’ul masani.”


Ibnu Hisbar berkata terus terang: "Heran kalau ada orang yang berlainan pendapat tentang ini, karena banyak dalil yang menunjukkan adanya keistimewaan atau kelebihan suatu surah/ayat  atas surah atau ayat lainnya. Berkata Syekh Izzuddin bin Abdissalam: "Surah Al-ikhlas lebih (afdhal) daripada surah Al-lahab. Sebab surah Al-ikhlas menerangkan tentang keesaan Allah, Sedangkan surah Al-lahab menerangkan tentang kecelakaan Abu Lahab. Jadi bukan keagungan dan kesuciannya, tapi semata-mata kelebihan tentang arti atau maknanya. Begitupula kiranya kelebihan Ayat Kursi, ayat-ayat akhir surah Al-hasyr dan lainnya. Yaitu kelebihan tentang arti dan maknanya bukan tentang keagungan dan kesuciannya.

4 Jenis Kelebihan Surah Atau Ayat Atas Surah/Ayat Lainnya.


Menurut Imam Al_Halimi dikutip dari Imam Al-Baihaqi, bahwa ada 4 macam keistimewaan atau kelebihan surah/ayat dari yang lainnya:
  1. Ada amalan terhadap suatu surah/ayat dianggap lebi penting dari amalan terhadap ayat/surah lainnya. Sebab itu lebih dibiasakan orang membacanya dibanding dengan surah/ayat lainnya. Begitulah ayat-ayat yang mengandung perintah dan larangan, ganjaran pahalah dan ancaman siksa dianggap lebih penting dari ayat-ayat yang berisih kisah-kisah, karena umumnya kisah-kisah itu kedudukannya adalah semata-mata untuk menguatkan ayat-ayat yang mengandung perintah, larangan, ganjaran dan ancaman itu.
  2. Ayat-ayat yang menerangkan nama-nama Allah, atau yang menerangkan sifat-sifat allah, atau yang menunjukkan dan mempertegas akan kebesaran Allah, dianggap lebih penting dan lebi diistimewakan orang daripada ayat-ayat lainnya tentang arti atau maknanya
  3. Ayat Kursi, Surah Al-ikhlas dan AlMuawwidzatain (Qul a'udzu bi Rabbin Nas dan Qul a'udzu bi Rabbi Falaq) dan lain-lain ayat atau surah serupanya, lebih diistimewakan dan dibiasakan orang membacanya, karena membaca dan menyadari isi yang terkandung dalam ayat-ayat seperti itu, langsung menjaga diri dari berbagai bahaya, menyadarkan diri untuk tetap berpegangan kepada kebesaran Allah didalam menghadapi berbagai bahaya, dan dinaggap suatu ibadah dzikir yang langsung mengingat Allah dengan segala sifat-sifatnya yang suci dan tinggi. Sedangkan kalau kita membaca ayat-ayat yang mengandung hukum, hanya menghasilkan pengetahuan tentang hukum itu.
  4. Suatu surah atau ayat dianggap lebih penting dan istimewah, karena Allah dengan perantaraan wahyuMya kepada Nabi Muhammad menegaskan bahwa membaca atau mengambil pelajaran dari ayat dan surah tersebut mendapat ganjaran (pahala) yang berlipat ganda daripada membaca ayat/surah lainnya. Bukan hanya terhadap surah/ayat saja, malah kadang-kadang ada hari, bulan atau saat-saat tertentu yang diistimewakan Allah dari hari, bulan, atau saat-saat lainnya.
Dengan pengertian bahwa melakukan ibadah atau amalan kebajikan di hari, bulan, dan saat-sat tertentu itu dianggap lebih besar ganjarannya daripada ibadah atau amalan di hari, bulan, dan saat lainnya. Misalkan hari Jum'at, malam Jum'at, bulan Ramadhan, di hari Tasyriq dan lain-lainnya, adalah saat-saat istimewah dalam beribadah padanya. bhakan ada pula tempat-tempat yang lebih diistimewakan Allah dari tempat-tempat lainnya untuk bershalat atau berdo'a. Tempat-tempat itu yakni Masjidil Haraam di Makkah, Masjid Nabi di Madinah dan Masjidil Aqsa di Palestina (Syam).

7 Keistimewaan Surah Al-Fatihah Menurut Hadist-hadist Nabi.


1. Paling Besar (A'zham).
Diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Muhammad bin Hanbal berkata: menyampaikan akan kami Yahya bin Said dari Syu'bah yang menerima kabar ini dari Hubaib bin Abdirrahman, dari Hafizh bin 'Ashim, dari Abu Said al-Ma'alli. Katanya:

"Aku sedang dalam shalat, lalu dipanggil oleh Rasulullah , maka tak dapat aku menyahut. Sesudah aku selesai shalat, aku datangi beliau, Rasulullah berkata: Kenapa engkau tidak segera mendatangiku? Aku menjawab: karena aku dalam bershalat ya Rasulullah. Berkata Rasulullah: Bukankah Allah sudah berfirman: Hai orang-orang beriman, sambutilah seruan Allah dan Rasul bila menyeru kamu kepada yang menghidupkan kamu. Kemudian beliau berkata: Aku akan mengajarkan kepadamu sebesar-besar surah di dalam Al-quran sebelum engkau keluar dari masjid. beliau memegang tanganku, lalu aku berkata: Ya Rasulullah engkau mengatakan mau mengajarkanku kepada sebesar-besar surah di dalam Al-quran. Berkata Rasulullah: Ya, ialah al-Hamdulillah Rabbil 'Aalamin (dan seterusnya), ialah 7 ayat yang berulang-ulang dan itulah Al-quran Al-azhim yang telah disampaikan kepadaku."

Hadist yang seperti diatas ini pun diriwayatkan oleh al-Bukhori, Abu Dawud, an-Nasa'i, Ibnu Majah dan al-Waqidi dari berbagai sumber.

2. Tak Ada Samanya Dalam Taurat, Injil, Zabur Dan Al-qur'an.
Diriwayatkan Oleh Imam Malik bin Anas dalam Al-Muwattha' dari al-'Ala bin Abdirrahman bin Ya'kub al-Haraqi, bahwa Abu Sa'id Mawla Ibnu 'Amir bin Kuraiz mengabarkan kapada mereka, bahwa Rasulullah memanggil Ubay bin Ka'ab ketika dia dalam bershalat di dalam masjid. Sesudah selesai Shalat, Ubay bin Ka'ab mendatangi Rasulullah, lalu Rasulullah memegang tangan Ubay, lalu bersama-sama keluar dari masjid dan berkata: Aku ingin engkau jangan keluar dari masjid ini sebelum mengetahui satu surah yang tak pernah diturunkan di dalam taurat, tidak pula di dalam injil dan tidakpula didalam Al-qur'an yang dapat menyamainya. Berkata Ubay: Lalu aku perlambat jalanku, lalu berkata kepada Rasulullah: surah apakah yang engkau janjikan itu ya Rasulullah? lalu Rasullullah membaca. " Alhamdulillahi Rabbil 'Aalamin" dan seterusnya, dia berkata: "Inilah surah itu yaitu & ayat yang berulang-ulang dan dialah al-Qur'an al-Azhim yang telah disampaikan kepadaku."

Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib bahwa Rasulullah berkata:
"Siapa yang membaca Fatihatul kitab (Al-Fatihah), maka seakan-akan dia telah membaca Taurat, Injil, Zabur dan al-Qur'an"

3. Hanya Diturunkan Kepada Nabi Muhammad.
Diriwayatkan oleh Muslim dan an-Nasa'i dari Abul Ahwash, Salam bin Salim dari 'Ammar bin Zuraiq, dari Abdullah bin Abdirrahman bin Abu Laila dari Said bin Jubair, dari Ibnu Abbas berkata:

" Pada suatu hari Rasulullah duduk bersama Jibril tiba-tiba Rasulullah mendengar suara bunyi dari atas, kemudian berkata: "itu sebuah pintu sudah terbuka sebelum ini", dari pintu ini turun satu malaikat, yang langsung menuju Rasullulah,  dan berkata: "bergembiralah engkau (Muhammad) mendapat dua cahaya yang aku bawakan ini, yang tak pernah kedua cahaya ini diberikan kepada nabi yang manapun sebelum engkau, kedua cahaya itu ialah Fatihatul Kitab Dan beberapa ayat di akhir surah Al-Baqarah, setiap huruf engkau baca dari keduanya pasti engkau mendapatkannya."

4. Langsung Mendapat jawaban Dari Allah.
Siapa yang membaca Surah al-Fatihah, setiap ayat yang dibaca itu langsung dijawab oleh Allah. Diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah berkata:

"Kami berada di belakang imam (bershalat), maka berkatalah imam kepadaku: "Bacalah al-Fatihah dalam hatimu, karena aku telah mendengar Rasulullah mengatakan: telah berkata Allah Azza-wa jalla: Aku bagi Shalat (di sini maksudnya ialah al-Fatihah) antaraKu dan hambaKu menjadi dua bagian (maksudnya: seperdua lagi untuk hambaKu), dan lagi hambaKu apa yang mereka minta. Apabila hambaku itu berkata: "Alhamdulillahi Rabbil 'Aalamin", Allah menjawab: "hambaKu MemujiKu"; dan apabila hambaKu menyanjungKu, dan apabila hambaKu berkata: "Maaliki Yawmidin", Alah menjawab: "hambaKu memuliakanKu", dan apabila hambaKu berkata: "Iyaka na'budu wa iyaka nasta'in", Alah menjawab: "Ini seperdua untukKu dan seperdua untuk HambaKu, bagi hambaKu, apa yang ia minta; dan apabila hambaku berkata: " Ihdinash shiraathal mustaqim, Shirathal ladzina an'amta 'alaihim, ghairil maghdhubi 'alaihim waladh-dhaalin", Alah menjawab: "Ini semuanya untuk hambaKu, dan bagi hambaKu apa yang ia minta."

5. Aman Dari Segala Bahaya.
Diriwayatkan oleh al-Buzar dari Anas berkata: Rasulullah berkata:

"Bila engkau baca al-Fatihah dan Qul Huwallahu Ahad maka amanlah engkau dari segala sesuatu, kecuali maut."

6. Langsung Dari Arsy.
Diriwayatkan oleh al-Hakim di dalam al-Mustadrak dari Ma'qal bin Yasaar telah berkata Rasululah:

"Amalkanlah segala apa yang tersebut di dalam al-Qur'an, halalkanlah apa yang dihalalkanya, haramkanlah apa yang diharamkanya, dan patuhilah ia, jangan sekali-kali engkau ingkari apa-apa yang tersebut di dalamnya, dan apa-apa yang kamu ragukan (maksudnya), kembalikanlah kepada Alah dan orang-orang yang mempunyai pengetahuan sesudah meningal aku nanti, supaya diterangkanya kepada kamu, dan berimanlah kamu kepada Taurat, Injil dan Zabur, dan apa saja yang dibawa oleh Nabi dari tuhan mereka, dan akan memberikan kelapangan kepadamu al-Quran dan segala keterangan yang tersebut didalamnya, maka sesunguhnya al-Quran itu pemberi syafa'at, sesuatu yang membawa kebenaran, dan kepadaku diberikan Allah surah al-Baqarah dari Dzikir Pertama (kitab-kitab suci yang diturunkan sebelum Musa) dan diberikan kepadaku surah yang berawalan Thaha, Thasin, dan Hamim dari papan-papan Musa (maksudnya Taurat), dan diberikan kepadaku Surah al_fatihah langsung dari Arsy.

7. Sebagai Obat Dari Bermacam Penyakit
Mengenai surah al-Fatihah dapat menyembuhkan penyakit-penyakit ada beberapa pendapat di dalam kalangan ulama'-ulama' besar Islam. Pokok perbedan pendapat itu berkisar pada ayat al-Quran yang tersebut dibawah ini:

"Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu, dan penawar (obat) bagi (penyakit) yang ada didalm dada, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman." (QS. Yunus Ayat 57)

" Dan kami turunkan dari al-Quran sesuatu yang jadi obat dan rahmat bagi orang-orang yang beriman, dan bagi orang-orang yang zhalim tetap bertambah merugi." (QS. Al-Isra' Ayat 72)

"Katakanlah, al_quran itu sebagai petunjuk dan penawar (obat) bagi orang yang beriman." (QS. Fushilat Ayat 44)

Karena ayat-ayat yang tersebut diatas, semua Ulama-ulama sepakat bahwa al-Quran itu dapat menjadi obat. Tetapi obat apa?, mereka berlainan pendapat. Ada diantara mereka mengatakan sebagai obat dari penyakit-penyakit batin (rohani) saja, tidak dapat menjadi obat dari penyakit-penyakit jasmani (mengenai tubuh). Tetapi sebagian Ulama yang lain mengatakan menjadi obat bagi penyakit-penyakit rohani dan jasmani (kedua-duanya).

Sumber: Buku Samudera Al-Fatihah karya Bey Arifin

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama